Tentang Januari
Januari, itu berarti hujan sehari hari. Beberapa hari ini selalu saja hujan mencoba bercengkrama dengan anak manusia, hampir setiap waktu. Entah itu pagi siang ataupun malam.
Saat ini aku duduk di ruang praktek ku di rumah sambil melihat kearah jendela besar yang sengaja aku buat. It’s raining, and i don’t know suddenly i thinking of you then trying to write this. There are lots of things i wanna tell you. Kau bisa melihatnya dari tempatmu sekarang kan ?
Aku akan sedikit menceritakan tentang ku dan seorang laki laki yang semoga akan menjadi laki laki yang paling kau sayang dan kau hormati. Tapi kau janji yaa jangan pernah sedikitpun tertawa mendengar ceritaku. Karena percayalah ini sama sekali bukan cerita layaknya film film disney yang mungkin akan kau sukai nantinya.
Berawal dari sebuah kata “teman”. Pasti kau pikir kita adalah teman yang baik ya ? buang pikiran itu jauh jauh sayang. Kita sama sekali bukan keduanya. You know, dia itu menyebalkan dan usil, sedangkan aku ini galak. Perpaduan yang pas kan nak untuk memicu pertengkaran ?
Bertemu selama 5 menit saja dan berakhir dengan senyuman adalah keajaiban bagi kita. Bahkan seingatku, kita pernah bertengkar selama kurang lebih 3 bulan. Tapi tenanglah, dia orang yang baik sayang, dia yang selalu mencoba untuk meminta maaf kepadaku.
Status kami tetap teman dalam tanda kutip. Tapi lucunya Tuhan, melihat kita yang tidak pernah akur, justru selalu menempatkan kita dalam situasi yang sama. Taukah kau nak ? 2 tahun aku terjebak dalam satu kelas dengannya dengan jabatan kami yang tidak pernah berubah. Belum lagi aku harus sekelas dengannya saat ranking terbaik seangkatan dibagi ke dalam 2 kelas dan diberikan kelas tambahan lebih untuk masuk ke sekolah yang benar benar terbaik. Ada 7 orang saat itu, dan 5 diantaranya masuk kelas sebelah sedangkan aku dengannya terjebak di kelas yang sama, okee kau jangan tertawa.
3 tahun putih biruku akhirnya selesai, aku bersyukur setidaknya kita tidak akan bertemu lagi. Namun, semesta itu lucu, kami bertemu lagi di masa putih abu abu dan sekelas. Wow. Tapi well, diakhir masa itu kami masing masing sibuk dengan orang lain. Lalu kami lulus dan masuk perguruan tinggi dan kami punya dunia sendiri-sendiri.
Tapi, semesta itu lucu. Tuhan selalu memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat. Saat itu bulan januari nak, sama seperti bulan ini, ada 1 kata muncul di handphone ku. Darinya. Lagi.
Satu kata setelah ribuan doaku yang lama belum terjawab, satu kata yang meyakinkan untuk menutup bukuku terdahulu, dan satu kata yang membuatku tersenyum.
Cerita yang panjang ya sayang ? itulah ceritaku dengan laki laki yang akan menjadi ayahmu. Tenanglah sayang, dia laki laki yang baik, dan aku yakin dia yang akan membuatmu tertawa setiap harinya, Menjadi garda terdepanmu saat kamu dibuat menangis. Apa kamu sudah tak sabar bertemu dengannya ?
Dear my baby girl,
I don’t know it’s just my imagination that i’m pretty sure, deeply in my heart, God tells me that i will have you, a sweet little princess. I know, maybe you’re not being created yet but, i want you to know earlier that i love you, truly love you
I know i’m not a good girl when i was kid, i don’t know if i will be a good mom or not, but i want you to be sure that i will take care of you, and what ever you do i promise to always be there for you. Please, be good in heaven, be kind to God, look at me from above.
Can’t wait to meet you, yasmeen rimshaqueena adzkiya
kali kedua, pada yang sama
Terlalu dingin di pagi buta. Hujan tak hentinya mengguyur kota ku sepagi ini. 102.0 FM menemaniku dengan secangkir kopi panas di atas tempat tidur.
Lalu, perasaan ini apa ?
Sedikit Untukmu
Hai kau yang entah sedang berada di belahan dunia manapun. I just wanna tell you something. Ini tentang calon profesiku, yang notabene mimpiku dari kecil. Aku hanya ingin sedikit berbagi denganmu. Bukan bermaksud apa-apa. Mungkin kita tidak diberi waktu banyak untuk saling mengenal lebih jauh, hanya lewat tulisan untuk kau bisa sedikit mengenalku agar tidak salah arah.
Saat ini aku mahasiswi perguruan tinggi negeri di suatu kota. Bukan kota besar, hanya kota kecil yang santun. Saat ini aku semester 6. Kurang 1 tahun lagi aku mendapat gelar Sarjana Kedokteran. Semoga dilancarkan, aamiin.
Setelah itu, aku masih diharuskan mempersiapkan ujian kompre. Ya, bisa diibaratkan itu seperti ujian nasionalnya para calon dokter. jika lulus, sebutanku berubah menjadi dokter muda. It means jenjang sekolah klinis harus aku lalui selama 2 tahun atau biasa disebut dengan koas. Lama ya. Mau menunggu kan ?
Koas, adalah yang paling berat dari jalan menuju gelar dokter. setengah hatiku berharap kita tidak di pertemukan di masa ini. Aku takut kamu lelah dengan hidupku, yang mungkin akan lebih sering menghabiskan waktu dengan buku, pasien, dan IGD dibanding berlama lama di layar handphone untuk berbicara denganmu. Mungkin juga aku hanya sesekali bisa keluar menemani malam minggumu. Bukan tidak ingin, tapi itulah jenjang yang harus aku lalui.
Tapi, setengah hatiku yang lain berharap aku bisa bertemu denganmu pada masa itu. Kenapa ? aku butuh teman berbagi, aku butuh teman diskusi, aku butuh seseorang yang bisa menguatkan. Karena aku yakin, kau orang yang menyenangkan untuk diajak berbicara. dan semoga kau mengerti dengan jalur profesiku ini.
2 tahun selesai, bukan berarti aku bebas. Aku masih harus menempuh UKDI untuk menghapus tulisan ‘muda’ sehingga hanya tersisa gelar ‘dokter’ dan mengambil sumpah hippocrates.
Dengan diambilnya sumpah, menandakan aku sudah sah menjadi seorang dokter. tapi aku masih harus menempuh internship selama 1 tahun. Pasti kau berpikir, ‘apalagi ini’. Awalnya akupun berpikir demikian. Mengapa untuk bisa mendapat gelar dokter yang memiliki Surat Ijin Praktek (SIP) harus melewati rentetan sepanjang dan se-melelahkan ini.
Panjang ya ? masih mau berjuang ? apa kau memilih give up ? tolong, jangan.
Oke, aku lanjutkan. Internship nanti aku harus belajar (lagi) tapi dengan pasien sungguhan dan tanpa didampingi konsulen. Ini tahap yang paling ramai dibicarakan di bidang kesehatan. Kau ingat kan ada seorang dokter yang meninggal saat internship ? mereka hidup di lokasi endemik, mengurus kesehatan orang lain sehingga lupa dengan kesehatannya sendiri.
Aku ingin mengambil di perbatasan kalimantan, atau sumatra untuk internship nantinya. Jika di jawa, butuh menunggu 6 bulan untuk diberangkatkan. Itu artinya akan semakin lama aku mendapat SIP.
Setelah internship selesai, aku mendapatkan tanda registrasi dan surat surat lainnya yang mengesahkan aku seorang dokter umum dan bisa praktek. Sekaligus aku resmi menjadi anggota IDI
Bukan berarti itu selesai semuanya, aku masih harus belajar sepanjang hidup karena dunia kedokteran berkembang tiap 5 tahun sekali. ‘long life learning’, itu yang harus selalu aku pegang.
Belum lagi jenjang spesialis yang ingin sekali aku ambil. Tapi jika aku sudah sah denganmu, aku akan bertanya denganmu dulu boleh atau tidaknya. Karena, sekolah spesialis sangat menyita waktu. Dan aku bukan lagi remaja yang bebas kemanapun aku mau, tanggung jawabku sudah bertambah dengan adanya kamu.
well, itu sedikit tentang profesiku. Bagaimana ? ikut merasakan lelah seperti yang kurasakan ? atau justru malah muak dengan kehidupanku ? kau tetap ingin berjuang kan ? aku takut kau menyerah sebelum bertemu denganku.
Maafkan aku yang mungkin akan lebih sering berada di rumah sakit dibanding di rumah. Maafkan aku yang mungkin pada saat kau pulang kantor tidak bisa membuatkanmu segelas kopi panas karena bersamaan dengan jadwal jaga. Maafkan.
Untuk siapapun kau nantinya, aku harap kau mau menerima dan mengertiku dan profesiku dengan segala kesibukan dan kekurangannya. Aku harap kau mengerti, ini mimpiku dari kecil, ini harapanku. Dan aku ingin bisa hidup dengan mimpiku dan kamu.
Selelah dan secapek apapun aku akan tetap berusaha menjadi rumah yang paling indah dan nyaman untukmu. Dan aku mohon, jadilah seseorang yang pundaknya selalu ada saat aku butuh.
Karena sesering apapun aku berada di rumah sakit,
rumahku tetap kamu, selamanya.
Sekotak kenangan 2015
Tahun ini, setelah sekian lama, nggak nulis resolusi akhirnya kepikiran buat bikin. Nggak banyak, hanya beberapa. Salah satunya membuka hati !
well, abaikan. Banyak yang bilang, waktu akan berjalan cepat jika kita menikmatinya. Hari ini, detik ini, flashback kebelakang, flashback beratus ratus hari kebelakang, banyak banget yang udah dilewatin, bukan sekedar banyak, tapi sangat banyak. Tapi entah, bukan berarti saya menikmatinya.
Tahun 2015 adalah tahun berat buat saya, berat banget. Banyak banget. Tahun yang menuntut saya untuk banyak belajar.
Belajar menerima amanah
Belajar menerima cobaan
Belajar membuka hati
Belajar menerima kehilangan
Belajar jatuh sekaliagus
Belajar bangkit
2015 memaksa saya harus jatuh bangun di rumah sakit yang entah nggak kehitung berapa kali karena sallmonela yang suka banget hidup di intestinume saya.
Yang mengharuskan saya untuk kehilangan banyak hal, mulai dari sahabat, barang, kesempatan. Dan sangat berharap space serta ruangan buat kamu, hilang sepenuhnya di tahun 2016.
Tapi alhamdulillah, dibalik semuanya, Allah masih memberi banyaaaaaak banget nikmat. Salah satunya bisa melewati semua cobaan di tahun ini dengan keadaan composmentis dan nggak gila.
Kadang suka wow aja dengan semua yang udah dilalui ditahun ini. Antara ngga percaya bisa semuanya lewat meskipun harus babak belur dan jungkir balik hingga berapa kali di tahun 2015 ini.
2016,
Berharap semua yang rusak di tahun 2015 bisa saya perbaiki.
Berharap semua resolusi bisa tercapai.
Berharap bisa dapet gelar Sarjana Kedokteran di tahun ini.
Segera cari judul skripsi yang udah harus masuk di awal tahun ini.
Well, welcome 2016 dengan segala ke optimisan saya dibanding tahun lalu.
Dan bye 2015, terimakasih, dan terimakasih
Atas segala drama dan jungkir baliknya,
Much love,
ridhaverdian.
Terimakasih, Jogjakarta.
Tentang Sebuah Pertemuan
"kak pulang kapan ? Nggak jadi hari ini ?"
"bentar bun, aku tunggu pengumuman dulu katanya keluar hari ini kalau ngga lolos aku pulang ntar siang ya bun"
Percakapan pagiku dengan bunda, dan ini pukul 14.00 enam jam setelah percakapan itu. tidak ada tanda tanda pengumuman yang aku tunggu muncul. Ya, Aku sedang menanti pengumuman tahap kedua pendaftaran asisten dosen di perkuliahanku. Apabila aku lolos maka besok pagi aku harus lanjut seleksi lagi, dan kepulanganku akan mundur
16.30
Bun, aku plg bsk aja. Pgumuman blm keluar takutnya kalau bsk keluar dan lgsung seleksi *message sent*
17.30
Aku keluar untuk berbuka puasa dengan temanku yang sama sama menanti pengumuman itu. Kami sama sama tidak ingin bolak balik karena rumah kami yang sama sama jauh. Jadi kami memutuskun untuk menunggu hingga semuanya selesai dan kami bisa pulang dengan tenang.
18.40
"ver, gue dapet kabar pengumuman besok pagi terus seleksi berikutnya itu minggu depan"
Damn !!
Satu hari ku terbuang disini sia sia. Seharusnya aku sudah bisa berada di rumah dan berbuka dengan mereka. Tapi ? Hanya untuk menunggu yang tidak pasti aku membuang kesempatan berharga.
Aku memutuskan untuk menelepon rumah
" halo, Bun aku pulang sekarang ya "
" udah jam segini kamu mau naik apa kak? "
" naik bis masih ada kok bun sampai sana paling jam 10 "
" naik travel aja udah nanti ayah jemput. Awas kalau kamu naik bis"
Karena ancaman bunda, Akhirnya aku naik travel yang menghubungkan 3 kota besar dengan keberangkatan jam 20.00. Travel cukup sepi malam itu. Hanya ada 3 orang yang diantar menuju kotaku. Aku, seorang bapak tua, dan seorang wanita.
22.15
Aku tiba di kotaku. Di kantor travel itu aku turun, menunggu jemputan ayah. Aku duduk di ruang tunggu yang menghadap jalanan. Ada travel yang datang, dan itu bukan dari kota rantauanku. Itu dari kota besar satunya. Aku tidak peduli dan kembali bermain hp.
Pintu ruang tunggu terbuka
"bek"
Ada yang memanggilku, dan hanya 1 orang yang memanggilku dengan cara seperti itu. Aku mengangkat kepalaku, dia tersenyum. Aku bertemu dengannya lagi dengan cara yang tak terduga.
"kok tumben ngga bawa motor", kataku ketika dia duduk di sampingku
"gatau lagi pengen pulang naik travel, kamu sendiri tumben",katanya sambil mengambil sebatang rokok. Aku menahannya menyalakan korek. Mukanya protes, aku hanya senyum. Dia memasukannya lagi ke kantong jaket.
"temenin makan yuk, laper", katanya lagi sambil berdiri dan membuka pintu. Aku mengikutinya dari belakang karena akupun juga sangat lapar. Sambil nunggu ayah, pikirku. Ditambah dia mengatakan akan mentraktirku. Entah ada maksud apa.
22.45
Ayahku tiba, bertemu dengan dia dan sedikit berbasa basi dengannya lalu kami masuk mobil dan pulang. Sempat menawarinya pulang karena rumah kami dekat dan searah. Tapi dia menolak katanya kakaknya akan menjemput.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang aku terus berpikir, tentang sebuah pertemuan
Apakah maksud Tuhan mempertemukan kita dengan orang orang. Entahlah, kadang suka berpikir mengapa kita harus bertemu dengan orang kalau akhirnya kita akan berpisah dengannya. Untuk apa kita dipertemukan apabila akhirnya orang itu bermaksud buruk dengan kita. Dan untuk apa sebuah pertemuan jika dia hanya sekedar lewat tanpa ada pengaruh apapun dalam hidup kita. Bukankah lebih baik kita tidak dipertemukan dengan orang orang seperti itu ?
Seperti pertemuan kebetulanku tadi. Jika aku pulang besok pagi mungkin aku tak akan bertemu dengannya malam ini. Jika aku nekat pulang naik bis, aku tak akan berada di kantor travel malam ini. Dan jika saja aku memilih mengambil keberangkatan pukul 19.00 aku tidak akan tiba bersamaan dengan travelnya.
Terlalu banyak jika dan untuk malam ini Tuhan menghapus semua jika itu. Se-kebetulan itu kah ? lalu untuk apa Tuhan menghapus semua jika itu ?
"kok diem kak, ada apa?" ternyata ayah yang sejak tadi mengemudi memperhatikanku.
"yah, kenapa harus ada pertemuan yang kebetulan, apa perpisahan juga ada yang kebetulan ?"
"nggak pernah ada yang namanya kebetulan, bahkan untuk debu yang berterbangan sekalipun. Kamu dipertemukan sama orang pasti ada alasan, mungkin kamu lagi disuruh belajar darinya atau bahkan mengajarkan. Begitu pula sama perpisahan. Pasti ada alasan. Mungkin itu cara Allah bilang tidak atau menjauhkanmu dari jalan yang salah. Atau bisa juga pertemuan dan perpisahan itu memang jawaban dari semua doamu yang di ACC sama Allah. Yang kamu pikirin itu bukan alasan Allah buat melakukan itu tapi bagaimana kamu menghargai sebuah pertemuan sebelum adanya perpisahan. Karena kamu harus inget, mereka itu sepaket. Setiap kamu bertemu dengan orang kamu juga harus siap karena pasti suatu saat nanti kamu akan berpisah dengannya"
Aku tersentak dengan jawaban ayahku. Disamping penjelasannya yang cukup membuatku membuka mata, ternyata aku menemukan jawaban atas pertemuan singkat ku dengannya tadi.
Terbayang saat kami makan di kaki lima tadi. Percakapan lepas yang sudah tidak terjadi sekitar 2 bulan, malam ini kami bisa tertawa lepas lagi. Cerita konyol yang keluar dari mulutnya, kebiasaan debat ngga penting kita yang berakhir dengan perang dunia. Dan ceritaku ketika harus melewati gerbang itu masih sama rasanya, dan dia menanggapi hanya dengan senyuman.
Mungkin ini maksud Tuhan, mengembalikan kebiasaan kebiasaan kita, sebagai sahabat, yang sempat hilang. Menumbuhkan ‘kebiasaan’ itu sebelum 2 bulan kita tidak bertemu dan melewati juli ini tidak seperti juli juli sebelumnya.
Sebuah Cerita Di Kota Istimewa
mengakulah
Bukan uang, tapi ketulusan
Cerita dibalik kumandang takbir
Assalamualaikum, selamat malam :)
Malam ini malam idul fitri. Saya insom lagi. Kali ini nggak hanya ditemani kopi, laptop dan musik, tapi juga ditemani ramenya suara kembang api di atap rumah saya. Syahdu ya ? :)
Saya suka nulis, apapun itu. Entah bahasa saya masih jelek atau gimana, tapi rasanya lega jika kamu bisa mengutarakan sesuatu yang ada di pikiranmu. Setuju dengan pendapat saya ?
Well, malam ini saya akan bercerita tenyang sesuatu peristiwa. Pwristiwa hampir 15 tahun lalu. Semoga bisa menemani malam kalian, mungkin yang lagi packing buat besok mudik sampai 3 hari kedepan. Semangat yaa :)
15 tahun lalu, tepat di malam lebaran. Ada seorang gadis kecil, yang pulang ke kampung halamannya. Yaa, kerumah kakeknya di suatu desa kecil perbatasan antara kudus dan pati. Hanya kakek dari ayahnya yang masih dia punya.
Gadis itu, karena satu satunya cucu perempuan di keluarga besarnya, metupakan cucu kesayangan kakeknya. Yaa begitu pula dengan gadis itu kepada kakeknya. Karena memang dia hanya punya 1 saja.
Malam lebaran, di pelosok desa, yang jauh dari perkotaan. Desa yang masiiiiih sangat sepi (pada saat itu) desa yang jauh dari hingar bingar keramaian. Yang terdengan hanyalah suara cicak, tokek, dan jangkrik. Indah kan ? Oh ya dan suara anak anak kecil yang takbiran.
Lalu, mana gadis itu ? Apakah dia menikmati liburannya ? Sayangnya tidak. Tepat malam lebaran, dia sakit. Sakit pertamanya yang akhirnya harus 'carrier' di tubuhnya. Maagh dan tifoid (typhus). Sampai sekarang.
Malam lebaran yang harusnya dia ikut anak anak kecil itu keliling desa, mengumandangkan takbir. Tapi dia hanya menahan sakit di kamarnya, memegangi perutnya yang terasa melilit. Kau bisa bayangkan ? Kelas 1 SD harus terkena maagh dengan badan panas.
Lalu, kenapa tidak dibawa ke dokter ? Bukankah aku sudah menjelaskan di awal ? Rumah kakeknya di pelosok desa dan jauh dari kota. Dokter praktek pun nggak ada. Mau dibawa ke RS ? Sangat jauh, dan saat itu yang dimiliki ayah gadis itu hanya motor.
Kalian tau kan keadaan typhus bagaimana jika malam hari ? Ya ! Pada malam hari, panas nya meningkat drastis dan turun di paginya. Yaa itu salah satu gejala typhus. Lalu kenapa nggak naik taksi ? Hahaha itu desa sayang, dan kudus bukanlah semarang yang memiliki puluhan armada taksi.
Jadi ? Kakek gadis itu akhirnya menyarankan untuk meletakkan air hangat yg dimasukkan botol di atas perut gadis itu. Katanya untuk mengurangi rasa sakitnya. 1 malam penuh orang tua dan kakeknya nggak tidur. Hanya untuk menemani gadis itu.
Dan, di disaat kakeknya setia menemani cucu perempuannya, dia juga merasakan sedih, ikut merasakan sakitnya gadis itu. Hingga akhirnya ada 1 kalimat terlontar dari mulut tuanya
'Nduk, besok kalau udah besar, jadi dokter yaa, jadi dokter disini, biar kalau ada yang sakit tengah malem kaya gini, di malam lebaran nggak susah cari dokternya. Mbah doain cepet sembuh, kalau bisa minta ke Gusti Allah, mending sakitnya dipindah ke mbah aja, daripada kamu sakit kaya gini'
Itu sudah translate ke bahasa Indonesia. Text aslinya sebenarnya bahasa jawa. Yaa wajar orang tua.
Well, sedikit seperti sinetron ya. Tapi sungguh itu terjadi nyata. Malam lebaran tahun 1999. Bukan hanya sebuah cerita belaka.
Tahun ini 2014, gadis itu sudah berumur 20 tahun. Dan apa yang dikayakan kakeknya menjadi nyata. Yaa doa kakeknya dikabulkan oleh Allah. Ucapan kakeknya lah yang menjadi motivasi gadis itu untuk menjadi dokter. Bahkan dia tela mencoba hingga berulang kali untuk tembus di kuliah kedokteran.
Besok pagi, gadis yang sudah tumbuh itu akan mudik ke rumah kakeknya. Rumah yang dulu saksi awal kenapa dia ingin jadi dokter. Dan menemui kakeknya untuk sungkem, minta maaf dan meminta doa untuk kelancaran pendidikannya
Salam,
Gadis kecil yang dulu sakit di malam lebaran,
Ridhani Rahma Verdianti
duapuluh :)
duapuluh
Sebelasjuliduaribuempatbelas. Alhamdulillah, dikasih kesempatan sampai pada angka duapuluh. Nggak ada perayaan seperti pada angka satu hingga sebelas. Nggak ada kado yang sesuai permintaan seperti angka angka sebelumnya. Hanya doa yang mungkin lebih banyak dari biasanya.
Seperti pada angka sebelumnya, ucapan dari satu orang itu yang paling ditunggu. Maaf, susah sekali membuang semuanya yang sudah bertahan lama di hati. Tapi ? Hanya senyum kecewa hingga pergantian hari yang ditunggu juga tak kunjung datang. Tak apa, kamu sehat dan sukses, itu adalah kado bagi saya :)
Terimakasih untuk keluarga super, ibu, ayah, rafi, rasya. Memang nggak ada kue, kado, ataupun nasi kuning. Tapi doa mereka yang justru hampir membuat air mata ini nggak berhenti netes
"udah dewasa ya, 20. Jalan buat mimpimu udah tercapai ditaun sebelumnya. Semoga lancar, sukses, ibu nggak ngasih apa apa, cuman doa yang hanya bisa dorong kamu dari belakang"
Dari seorang wanita, yang rela rahimnya dipinjam selama 9bulan dan rela mengorbankan nyawanya saat yang ada di rahimnya ingin keluar untuk menikmati dunia, malaikat pelindung yang dijanjikan oleh Allah.
"jaga diri, pintar cari teman, semakin deket sama Allah, tetep di jalan Islam. Semoga Allah nunjukan jalan terbaik"
Dari laki laki, yang pertama kali mengenalkan adzan saat menikmati dunia, laki laki yang tidak pernah membuat anak perempuanya menangis.
Terimakasih buat kakak beda bapak beda ibu, bang brian. Dapet kado krudung kece :). Semangat skripsinya ya bang !
Keluarga kedua di solo, tutorial A7 yang tepat jam 00.00 udah berisik banget di line. Selamat liburan guys. Terimakasih telah membuat 1 taun disolo berwarna dan tahun pertama nggak gila haha.
Keluarga ALACRITAS ! Angkatan terkece. Sukses bareng, masuk bareng keluar bareng. Amiin
Keluarga SCORP CIMSAA, yuhuuuu salam dipidipidip we are scorpion :)
Beberapa temen di Gizi UNDIP. love you full masih aja inget di angka 11 bulan juli. Sukses buat jadi dietition handal. Ayo perbaiki gizi Indonesia !
Daaan, of course sahabat seperjuangan. 8 tahun nemenin susah seneng. 8 tahun iya 8 tahun. Fitra, tyas, resha. Entahlah nggak ada kata yg mewakili buat kalian selain, berarti.
Banyak orang yang masih sayang, ngasih doa, dan peduli. Tapi entahlah, satu orang itu cukup membuat hari yang harusnya bahagia, jadi sedikit berkurang kadarnya.
Sudahlah, bersikaplah dewasa. Kata orang 20 adalah peralihan dari fase remaja ke dewasa. Ya semoga di awal 20 bisa mencoba bersikap lebih dewasa unyuk berdamai dengan perasaan sendiri.
Late post banget sebenernya, tapi masih di bulan juli nggak papalah. Terimakasih untuk semua doa doanya, semoga bisa jadi manusia yang lebih baik lagi dan makin dewasa dalam menyikapi semua masalah. Aamiin
Pejuang ujian tulis SBMPTN
Hari ini scrolling timeline twiter full banget tentang SBMPTN. Besok pagi adalah perangnya para pejuang ujian tulis. Jadi inget, 2 kali perjuangan di bangku panas ujian tulis demi sebuah mimpi yang sama.
saya memang sempat merasakan “perangnya” calon mahasiswa sebanyak 2 kali. Di tahun 2012 dan 2013. Dari yang nama awalnya SNMPTN hingga berubah menjadi SBMPTN. Dari yang jurusannya IPA, IPS, IPC hingga berubah menjadi SAINTEK, SOSHUM, dan CAMPURAN. Ya ! saya pernah mengalaminya.
Percobaan pertama, saya tembus di UNDIP FK ilmu gizi. Well usahanya ya begitulah, ikut les sana sini setelah mulai libur sekolah. Ikut berbagai macam tryout dari berbagai bimbel. Semuanya demi 1 mimpi. Tapi sayang, mimpi saya gagal di percobaan pertama.
Lalu, hasil percobaan pertama saya apa saya ambil ? ya ! ayah saya sempat “sedikit” emosi saat saya tak berniat untuk mengambilnya karena memilih “berdiam diri” setahun. Akhirnya saya ambil dan saya mencoba sedikit mencelupkan kaki saya pada jurusan tersebut.
Bukan berarti nggak nyaman atau bagiamana. Jujur “sedikit mencelupkan kaki” pada jurusan tersebut justru pada akhirnya saya berenang di dalamnya. Saya mulai nyaman, dengan teman temannya, mata kuliahnya. Tapi ternyata mimpi saya begitu besar. Saya berniat mencoba lagi di tahun berikutnya.
Apa yang spesial dari percobaan kedua selain namanya berubah ? di percobaan kedua ini saya benar benar dihadapkan pada keadaan “sejauh mana anda berani mengambil resiko”. Ya, ujian SBMPTN saat itu berlangsung ketika minggu tenang sebelum semesteran dimulai. Well, saya tidak perlu ijin untuk tidak mengikuti semesteran (yang katanya tidak bisa susulan).
Tapi, pada tahun ini saya benar benar tidak mengambil les ataupun bimbel sama sekali. Modal saya hanya buku dan catatan bekas tahun lalu percobaan pertama saya, beserta materi yang (mungkin) masih tersisa di otak saya. Dan tentu bantuan dari teman teman hebat seperjuangan saya. Mereka yang ikut bimbel, saat saya tidak mengerti saya akan tanya ke mereka. Nekat ? ya bisa dibilang begitu jika kalian melihat apa pilihan saya.
1,5 bulan sebelum SBMPTN saya hanya membaca sambil lalu jika ada waktu luang. Karena saat itu tugas kuliah benar benar membunuh bahkan untuk tidur pun saya harus rela mulai pukul setengah 2 pagi. Hingga saya berpikir, “usaha sebesar dulu saja saya tidak bisa tembus, kalo yang ini diturunin usahanya mana bisa tembus lagi”. Saya memng tidak pernah dan tidak akan menurunkan target saya. Jadi satu satunya jalan yang bisa saya tempuh hanya menaikan usaha saya.
H-2minggu, saya mulai berani ambil resiko. Kalo saya memilih untuk keduanya saya yakin nggak akan ada yang maksimal. Jadi saat itu kuliah saya korbankan. 2minggu itu saya masuk kuliah hanya untuk absen karena untuk syarat bisa ikut semesteran. Tapi di kelas saya hanya modal HP, headseat dan kumpulan soal SNMPTN (sisa taun lalu). 2 minggu saya tidak pernah mendengarkan apapun perkataan dosen. Yang notabene udah menjelang semesteran. Sekali lagi, hidup itu pilihan. Kamu harus berani memilih.
2minggu itu benar2 usaha mati matian saya. Mulai jam 7 pagi hingga jam 2 pagi. Ya, itu berulang tiap harinya selama 2 minggu. Dan jujur pikiran saya saat itu nggak hanya SBMPTN. Ada seseorang yg cukup menguasai pikiran saya saat itu. Seseorang yang dulu di percobaan pertama saya yang setia untuk selalu meyakinkan bahwa saya bisa mendapatkan mimpi saya. Seseorang yang jarang pulang (karena memang tidak boleh pulang), ya saya kangen dia. Kalian tau rasanya dibawah tekanan tapi ada kangen yg tidak dapat tersalurkan ?
2 minggu saya habis, hari saya berperang pun tiba. Pagi pagi puluhan teman2 terbaik saya mengirimkan semangat dan doa supaya diberi kelancaran, termasuk kakak lelaki saya beda ibu beda bapak yg sedang kuliah di UI. Tapi tetap ada yang kurang, saya nunggu dia, tapi tidak akan pernah mungkin
2 hari ujian itu pembuktian bagaimana 1,5 bulan persiapan saya. Berhasil atau tidak. Saat itu saya dapat tempat tes yang cukup jauh, dari timur ke barat. Ya, sangat jauh. Tapi semoga pengorbanan itu membuahkan hasil.
Berangkat ujian yang saya ingat cuman 1 pesan ayah “semoga kamu dapet yang terbaik buat masa depanmu”. Entah kalo inget kalimat itu saya speechless. Ayah di pihak netral, apapun hasilnya itu pasti skenario terbaik Allah buat kamu. Itu pesannya. Jadi saya memang pasrahkan 2hari itu ke Allah, jika memang mimpi saya itu yang terbaik untuk saya maka mudahkan untuk mendapatkan tapi kalo tidak saya ikhlas lillahitaala untuk tetap berada di jalan awal saya.
2 hari berlalu, saya mulai sedikit lupa ttg ujian tersebut dan sekarang waktunya untuk mengejar ketertinggalan materi kuliah saya. Karena saya nggak mau memotong sks saya gara gara ip jelek jikalau saya tidak lolos SBMPTN, jadi selang waktu 3 hari untuk mengejar semuanya.
Pengumuman maju saat itu. 1 hari sebelumnya saya di jogja untuk ikut ujian mandiri suatu universitas. Jam 5 sore dan saya baru tau penguman dimajukan saat jam 6 sore. Alhasil setengah 7 saya baru bisa melihat hasilnya.
Alhamdulillah, meskipun bukan di universitas yang saya inginkan tapi jurusannya sudah mewakilkan. PENDIDIKAN DOKTER FK UNS. Pilihan 1 saya, mimpi saya, harapan saya yang masih sama sejak 2 tahun lalu, PEND.DOKTER FK UI. Pilhan 2 saya PEND. DOKTER FK UNAIR. Dan ketiga baru yang menerima saya.
Dibalik cerita saya, ada beberapa yang saya tekankan tentang sebuah resiko. Ada sebuah kalimat ‘FORTIS FORTUNA ADIUVAT’ keberuntungan selalu berpihak pada orang yang berani mengambil resiko. Jadi, pilihlah pilihan yang memang kamu harapkan, maju terus jangan pernah takut dengan resiko itu, karena pasti, pasti ada jalan untuk resiko di depanmu. Dan yakinlah Tuhan selalu punya jalan terbaik buat hambanya, kalo memang bukan jalanmu setinggi apapun usahamu, Tuhan tetap akan selalu mempertahankan kamu di jalan terbaikmu. Tapi kalo memang itu jalanmu dan kamu telah berusaha penuh untuk itu, percayalah Tuhan akan ikut berjuang untuk membawamu ke jalan yang lebih tepat.
Selamat berjuang para pejuang tulis SBMPTN ! selalu ada mutiara dibalik tetes tetes keringat dan air mata perjuanganmu :) semoga sukses !
sepotong kerinduan pada jalan pulang
welcome Dr. Moewardi
![]() |
| co card utama yang bikin keliyengan bikinnya |
![]() |
| 3 angkatan yang ngospek, bikin jadi juragan co card -__- |
![]() |
| salah satu kelompok ospek Fakultas |
![]() |
| bareng sahabat alay (ki ka) *yuyun ajeng nikko ridha* :) |
![]() |
| sahabat budiman, seperjuangan, sejawat @nikinikko |
Diposting oleh









